KKN, Mata Kuliah Pilihan

Medan, (Analisa). Muhammad Fidel Ganis Siregar SpOG menyatakan, Kuliah Kerja Nyata Pembe­lajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) masih menjadi mata kuliah pilihan dengan syarat, hanya boleh diikuti mahasiswa yang telah lulus 100 SKS.

Hal itu disampaikan WR II tersebut saat membuka sosialisasi KKN-PPM, Jumat (17/2) di Gelanggang Mahasiswa Pintu I Kampus USU, Medan. Hadir dalam kegiatan itu Ketua LPPM USU diwakili Sekretaris LPPM Prof Dr Dra Irnawati Marsaulina, MS dan dua orang narasumber yakni Dr Budi Utomo SP.MP dan dr Surya Dharma MPH.

Menurutnya, dalam sambutan di hadapan ratusan mahasiswa calon peserta KKN-PPM, pada dasarnya KKN bukan hal yang baru bagi USU karena USU pernah melak­sanakannya sejak 1972-1999. Selanjutnya karena sesuatu hal maka KKN dihentikan bersamaan dengan dihentikannya KKN di universitas-universitas lainnya di Indonesia pada 1999.

KKN tahun ini memasuki tahun ketiga pelaksanaan dan hal itu sejalan dengan imbauan DIKTI agar seluruh universitas menjalankan mata kuliah KKN. "Mengingat sangat pentingnya program KKN bagi mahasiswa, perguruan tinggi dan masyarakat, maka USU kembali mengadakan kegiatan KKN pertama kali pada 2015 dan diharapkan bisa menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa USU," tuturnya.

Sesuai dengan konsep yang dijalankan, KKN di masa kini berubah namanya menjadi KKN PPM. Konsep ini merupakan perbaikan dari konsep KKN di masa lalu yang lebih berorientasi top-down serta kegiatannya lebih kepada pengabdian mahasiswa saja. KKN PPM mengarah pada kegiatan yang ber­orien­tasi bottom-up, yakni mahasiswa bersama masyarakat berupaya untuk melakukan perubahan atau perbaikan di masyarakat.

Selain belajar, mahasiswa juga melakukan pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat untuk bersama-sama membangun desa. Selama tiga tahun desa-desa ini akan mendapat kunjungan mahasiswa KKN-PPM. Dan diharapkan nantinya desa binaan akan berubah menjadi lebih baik setelahnya.

Rancangan program

Sementara itu, Sekretaris LPPM USU Prof Dr Dra Irnawati Marsaulina MS dalam laporannya menyampaikan, pada 2017, rencana program KKN-PPM akan dilaksa­nakan dalam tiga program kegiatan, yaitu KKN-PPM reguler di Karo, Simalungun, Labuhanbatu Utara, Langkat dan Kota Tanjungbalai. Kemudian KKN Kebangsaan akan dilaksanakan di Kota Gorontalo dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sebagai tuan rumah. Terakhir,  KKN Pulau Terluar yang rencananya akan dilak­sanakan di Nias Utara.

"Sebelumnya pada 2016 USU melak­sanakan KKN Reguler di Karo, Simalungun, Samosir. Sementara KKN Tematik dilak­sanakan di Kota Tanjungbalai. Untuk KKN Pulau Terluar dilaksanakan di Nias Utara, Sumut dan Pulau Simeulue, Provinsi Aceh. Untuk KKN Kebangsaan dilaksanakan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau," tukasnya. (rel/anty)

http://harian.analisadaily.com/kota/news/kkn-mata-kuliah-pilihan/322859/2017/02/20

(Analisa/istimewa) BANGUN GUDANG: Ketua Tim Pengabdian Masyarakat USU Hariadi Susilo MSi (paling kiri) bersama anggota tim foto bersama dengan latar pembangunan gudang olahan pakan ternak di Kabupaten Simalungun.

 

Simalungun, (Analisa). Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Sumatera Utara (USU) mela­kukan pengabdian masyarakat di Kabupaten Simalungun, tepatnya di Huta Gondang Rejo Nagori Bandar Tongah, Kecamatan Bandar Huluan. Tim pengabdian yang diketuai Ha­riadi Susilo MSi ini menggandeng akademisi USU lainnya untuk memodifikasi teknologi pakan ternak.

“Kita membantu kelompok peternak di desa itu agar usaha penggemukan sapi me­reka lebih optimal. Bersama dengan ahlinya tim pengabdian berupaya men­ciptakan teknologi pakan ternak yang memak­simalkan limbah pertanian,” ujar Hariadi Susilo di Kampus USU.

Ia menjelaskan, tim pengembangan teknologi pakan ternak ini terdiri dari Ir Tugiman MT (ahli mesin) dan Dr Ir Ma­ruf Tafsin MP (ahli pakan ternak). Selain itu juga ada Prof Dr Saib Suwilo, Dr Chairani Hanum, Dr Dardanila, Prof Erika Saragih, Faridah Ariani MT, Dr Amlys Syahputra, Arlina MHum dan Eva Sartini Bayu MP.

Hariadi menjelaskan, mesin teknologi pakan ternak ini sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para kelompok peternak, hanya saja dalam kasus di Simalungun, mesinnya dirancang ulang sehingga bisa memanfaatkan limbah pertanian yang lain selain rumput.

“Kami ini kan masih tahap awal, jadi masih dalam tahap pembuatan mesin. Kita akan uji coba nanti bagaimana hasilnya. Namun yang pasti, mesin yang diciptakan itu nantinya akan mampu menciptakan suplemen untuk sapi agar sapi-sapi di sana sehat dan memiliki gizi yang cukup,” ujarnya.

Proses ke depannya, imbuh Hariadi, adalah menciptakan industri pakan ternak atau suplemen ternak dari hulu ke hilir. “Kita ciptakan mesinnya, dan langsung bisa memproduksi suplemen ternaknya dengan kandungan gizi yang terlebih dahulu lulus uji. Huta Gondang Rejo Nagori Bandar Tongah ini kami jadikan pilot project,” ujarnya.

Ada  beberapa  kegiatan yang saat ini te­ngah dilakukan, ujar Hariadi, yakni pe­nyusunan pakan ternak berbasis limbah pertanian untuk sapi bakalan dan atau peng­gemukan.

Penyuluhan standar pemeliharaan sapi. Penyuluhan dan pendampingan dan evaluasi penggunaan alat.

Tim pengabdian saat ini juga telah mem­bangun kandang sapi dan gudang pengo­lahan pakan ternak berbasis teknologi. “Kita berharap kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kalau memang ini berhasil, teknologi dan pakan ternak yang diciptakan nantinya bisa diproduksi lebih banyak lagi,” ujar dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU ini.

Ir Tugiman MT yang merancang tek­nologi mesin pakan ternak itu menje­laskan, mesin terdiri dari 5 jenis. Pertama mesin chopper, mesin pelet, mesin pengaduk pakan, mesin pengering dan mesin press manual.

“Mesin kita modifikasi sedemikian rupa agar bisa disesuaikan dengan limbah tana­man yang ada. Juga didesain sehemat mungkin, baik untuk bahan bakar maupun penggunaan listriknya. Intinya bagaimana para peternak di desa itu bisa dimudahkan dengan teknologi ini,” ujarnya. (br)

http://harian.analisadaily.com/sumut/news/modifikasi-teknologi-pakan-ternak/423270/2017/09/29