home icon
search icon
menu icon

Akademisi USU Lakukan Pendampingan Perempuan Penenun di Pansur Napitu Tarutung

Dipublish Pada

14 Agustus 2025

Dipublish Oleh

Syafrijal S.Kom

Akademisi USU Lakukan Pendampingan Perempuan Penenun di Pansur Napitu Tarutung

Eksistensi warisan budaya semakin tergerus oleh perkembangan arus modernisasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi.Salah satu warisan budaya yang mengalami ancaman serius di Sumatera Utara adalah kain tenunan etnis Batak yang dikenal dengan nama Ulos.

Begitu disampaikan pemerhati budaya yang juga akademisi di Departemen Antropologi FISIP Universitas Sumatera Utara, Dr. Dra, Rytha Tambunan, MSI dan Dr Drs Irfan M.Si saat melakukan pendampingan terhadap masyarakat penenun di Desa Pansur Napitu, Kecamatan Siatas Barita, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.

“Tenun Batak bukan sekadar kain, melainkan karya budaya yang kaya makna. Motif seperti Ragi Hidup, Sadum, Bintang Maratur, dan Tumtuman menyimpan filosofi mendalam dalam setiap helainya. Saat ini, hasil tenun tidak hanya digunakan dalam upacara adat, tetapi juga mulai dimodifikasi menjadi busana modern seperti jas, gaun, dan kemeja,” kata Rytha dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 13 Agustus 2025.

Rytha menjelaskan, praktik bertenun di kalangan perempuan etnis Batak merupakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh secara informal. Para perempuan batak sejak usia muda mendapat pengetahuan itu dari orang tua mereka secara turun temurun.

“Sejak kecil, anak perempuan sudah terbiasa membantu orang tua mereka mulai dari mempersiapkan benang hingga akhirnya mahir menenun sendiri,” ujarnya.

Saat ini kata Rytha, jumlah penenun di Pansur Napitu berdasarkan data yang diperoleh dari kepala desa, berjumlah 256 orang. Jumlah ini memperlihatkan minat kaum muda untuk mengikuti jejak orang tua mereka sebagai penenun masih terjaga.

“Mayoritas penenun masih menjual karyanya secara langsung ke pasar tradisional (onan) atau melalui toke,” ungkapnya. 

Pendampingan dari berbagai kalangan, seperti yang dilakukan oleh Civitas Akademika dari FISIP USU yang melibatkan para mahasiswa ini menurut Rytha, merupakan hal yang harus terus digencarkan. Selain menjadi bagian dari pengabdian masyarakat sebagaimana tercantum dalam Tri Darma Perguruan Tinggi, hal seperti ini juga penting untuk semakin memberikan masukan bagi para penenun dalam mengembangkan bisnis kain tenunan mereka. Dengan begitu, maka warisan budaya ini akan tetap terjaga.

“Di era yang serba digital ini, semangat para perempuan penenun di Tarutung menjadi bukti nyata bahwa tradisi bisa tetap hidup dan berdaya guna, selama mendapat dukungan dan ruang untuk berkembang. Kini, saatnya tradisi lokal mendapat tempat sejajar dalam peta industri kreatif nasional,” demikian Rytha Tambunan

https://www.rmolsumut.id/akademisi-usu-lakukan-pendampingan-perempuan-penenun-di-pansur-napitu-tarutung

PKM