Siaran Pers : Hasil Seleksi Administrasi Calon Rektor Universitas Sumatera Utara Periode 2026-2031
Siaran Pers Proses Penjaringan dan Pemilihan Rektor USU Periode 2026-2031
Komite Audit USU 2025-2030 Resmi Bertugas
27 Agustus 2024
Syafrijal S.Kom
HUMBAHAS. Masih membekas di ingatan kita, banjir bandang yang menerjang Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, pada Hari Jumat, 1 Desember 2023, pukul 21.25 WIB. Sebanyak 12 orang dilaporkan hilang dan seorang warga mengalami luka berat akibat peristiwa tersebut.
Sementara itu, 50 KK harus mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah rumah mereka rusak dan terdampak banjir bandang. Kerugian materil yang dihimpun, sekitar 12 rumah yang rata dengan tanah, 18 rumah rusak berat, 2 rusak sedang, 3 rusak ringan dan 6 terdampak.
Selain rumah, Hotel Senior Bakara dan Gereja Katolik Simangulampe juga terdampak banjir bandang. Adapun luas wilayah yang dilanda banjir bandang tersebut sekitar 11 hektar.
Sedangkan tata guna lahan lain yang terkena dampak banjir bandang terdiri dari: pemukiman, perladangan, persawahan dan kuburan, sawah baru ditanami padi, perladangan yang ditanami tanaman hortikultura (seperti sayuran, tomat, cabai, bawang merah dan jagung), serta ladang sayuran dan bawang yang sudah siap untuk panen.
Dampak bencana di Desa Simangulampe mencakup beragam aspek, baik ekonomi, sosial, dan lingkungan sehingga menimbulkan persoalan bagi masyarakat pada ketiga aspek tersebut. Pada aspek lingkungan, persoalan yang timbul antara lain: masih adanya praktik pembukaan hutan dan lahan untuk budidaya pertanian oleh masyarakat di bagian hulu; kondisi lahan di bagian hulu berupa tebing dengan kondisi sedikit pohon; kiri dan kanan sungai (sempadan sungai) yang melintas desa sangat rawan longsor susulan; kondisi sungai pasca bencana banyak terdapat sisa batang kayu tumbang yang menghambat aliran air, belum tersedianya peta rawan bencana, dan kurangnya pemahaman masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup pasca bencana.
Sebagai wujud kepedulian sekaligus pelaksanaan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) telah menjadikan Desa Simangulampe sebagai Desa Binaan dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) di tahun 2024. Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu membantu menyelesaikan persoalan aspek lingkungan melalui kegiatan penyuluhan sekaligus Edukasi Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi di Desa Simangulampe.
Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 20 Agustus 2024 bertempat di Kantor Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbahas. Selain kegiatan penyuluhan dilakukan juga survey lokasi penanaman pohon di sekitar sempadan sungai dan bagian hulu Sungai, identifikasi jenis pohon yang akan ditanam, dan rencana pembuatan persemaian atau kebun bibit desa (KBD).
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim PPM USU yaitu Oding Affandi (Ketua PPM Desa Binaan), Moehar Maraghiy Harahap, (Koordinator Bidang lingkungan), Agus Purwoko, Tito Sucipto, Nurdin Sulistiyono, dan Muhammad Syafri Lubis.
Kegiatan ini dihadiri juga oleh mahasiswa peserta merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) USU. Sementara itu dari pihak desa hadir Kepala Desa Simangulampe Lambok Simanullang, dan jajaran pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan kelompok ibu rumah tangga, serta hadir juga perwakilan Kecamatan Baktiraja Paber Simanullang.
Oding Affandi dalam kegiatan tersebut menyampaikan, atas kejadian bencana di Simangulampe, USU melalui LPPM melakukan upaya mitigasi dan adaptasi melalui kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi, khususnya PPM sebagai wujud kepedulian perguruan tinggi sekaligus menyelesaikan persoalan yang timbul dari dampak bencana.
“Kegiatan mitigasi dan adaptasi ini dilakukan bersifat komprehensif yang mencakup berbagai aspek yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan serta melibatkan para pihak, baik pemerintah, swasta, masyarakat, maupun lembaga swadaya masyarakat," katanya.
Kegiatan mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana melalui pembangunan fisik maupun penyadaran masyarakat dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. "Sedangkan kegiatan adaptasi bencana merupakan proses penyesuaian diri terhadap kejadian suatu bencana atau bentuk penyesuaian diri yang digunakan dalam merespon perubahan ekonomi, sosial dan lingkungan akibat bencana. Kegiatan adaptasi ini diperlukan untuk meningkatkan rasa kewaspadaan bila tinggal di daerah rawan bencana yang membahayakan kehidupan”, pungkas Oding.
Di sisi lain, Kepala Desa Simangulampe Lambok Simanullang menyampaikan, pihak desa sangat menyambut baik program ini. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Pelaksana Program Desa Binaan LPPM USU yang telah mendampingi pemulihan lokasi bencana melalui beragam kegiatan pengelolaan lingkungan. Masyarakat kami di desa mengharapkan agar tidak ada lagi bencana alam dan akan berupaya bersama dalam mencegah terjadinya hal serupa. Kmi berharap agar kegiatan pengelolaan lingkungan hidup nanti juga berdampak bagi peningkatan perekonomina masyarakat desa”, harap kepala desa.
Sementara itu, Moehar Harahap dalam paparan penyuluhan terkait pengelolaan lingkungan hidup pasca bencana menyampaikan materi tentang: Hutan Sebagai Modal Kehidupan, Memaknai Hutan Dan Pohon, Ragam Manfaat Hutan, Penyebab Bencana dan Kerusakan Hutan, Menanam Dan Memelihara Pohon, Hutan Sebagai Cadangan Pangan, dan Desapreneurship.
"Penyuluhan ini kami lakukan dalam kegiatan PPM dengan tujuan untuk memberi penjelasan terkait pentingnya memelihara lingkungan hidup dan hutan bagi kehidupan manusia. Kita berharap dengan terbukanya pemahaman masyarakat, maka masyarakat akan menjadi pendukung dan pelaksana utama dalam kegiatan mitigasi dan adaptasi bencana," ujarnya.
"Dalam kegiatan mitigasi bencana kita akan mendorong lahirnya Peraturan Desa terkait pengelolaan lingkungan hidup seperti setiap warga desa agar menanam satu pohon ketika ada kelahiran anak atau lima pohon jika ada pesta pernikahan. Oleh karenanya, kita akan membantu desa membangun persemaian untuk menampung bibit yang diberikan masyarakat tersebut”, pungkas Moehar.
Adapun perwakilan Kecamatan Baktiraja, menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada pihak USU yang telah bersedia untuk membina warga Desa Simangulape dalam upaya memulihkan kembali kondisi lingkungan hidup yang rusak setelah terjadi bencana. “Kami mengharapkan, USU dan pihak lainnya bisa melakukan upaya agar ada pengamanan dengan membuat bronjong atau tanaman pengikat tanah pada kiri kanan sungai. Selain itu perlu dilakukan semacam pelebaran sungai yang saat ini sempit sehingga air bisa mudah mengalir ke danau”, ucap Paber.
Pada sesi survey lokasi penanaman pohon, Tim PPM USU melakukan penyusuran Sungai Simangulampe sekaligus mengidentifikasi jenis pohon yang tumbuh di sekitar hulu. Kondisi Sungai saat ini, di bagian hulu ditemui kondisi areal lahan banyak yang terbuka dan sangat jarang ditemui pohon dengan akar kuat. Di bagian tengah sampai hilir sungai masih terdapat batu-batu besar dan ranting pohon.
Sementara itu di bagian kiri-kanan tebing sungai kondisinya terbuka dan berbatu sehingga sangat rawan terjadinya longsoran susulan. Dengan kondisi tersebut, Tim PPM USU membuat rencana titik tanam pohon di sepanjang kiri kanan Sungai mulai dari hulu sampai hilir sungai.
Berdasarkan hasil diskusi dengan warga, rencana jenis bibit yang akan ditanam antara lain alpukat (500 batang), kemiri (1.000) batang, durian (500 batang), mangga (500 batang), suren/ingul (1.000 batang) matoa (100 batang) dan tanaman coklat (10.000 bibit). Warga Masyarakat juga mengharapkan agar pemerintah atau pihak berwenang lainnya mengendalikan monyet yang sering memakan buah-buahan maupun tanaman produktif warga. Monyet tersebut banyak berkeliaran secara berkelompok dan sering merusak tanaman warga.